TEORI BELAJAR BAGI SEORANG GURU dan MURID
oleh : parwadi .solo
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku pada manusia yang relatif menetap dalam jangka waktu yang relatif lama dan perubahan tersebut tidak diakibatkan oleh proses kedewasaan. Perubahan dalam belajar adalah perubahan yang disengaja atau diusahakan sesuai dengan yang diinginkan dan harus menuju ke arah yang lebih baik dan positif misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa.
Secara umum, aspek yang turut menentukan proses perubahan perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam dua kategori utama yaitu aspek personal dan aspek situasional. Aspek personal datangnya dari dalam diri seseorang seperti kapasitas kecerdasan, kesehatan, dan kondisi fisik biologis lainnya, sedangkan aspek situasional meliputi segala aspek yang datangnya dari luar diri seseorang.
Belajar dan mengajar dalam dunia kependidikan merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk menjelaskan perubahan perilaku atau belajar ini sering digunakan banyak pendekatan, namun yang utama adalah pendekatan psikologi baik psikologi behavioristik maupun psikologi kognitif. Dalam prakteknya, faktor belajar ini bisa berlangsung hanya dengan bantuan komunikasi yang secara khusus diarahkan pada masalah-masalah pendidikan dan belajar. Model komunikasi terbuka adalah salah satu yang diutamakan pelaksanaannya di dalam lingkungan pendidikan.
Teori Belajar Behavioristik
Belajar dalam teori ini selanjutnya dikatakan sebagai hubungan langsung antara stimulus yang dating dari luar dengan respon yang ditampilkan oleh individu. Pada umumnya teori belajar yang termasuk dalam behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang netral, pasif, dan reaktif terhadap stimulus di lingkungan sekitarnya. Jika stimulus dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan berakibat berubahnya perilaku individu.
Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R adalah adanya dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respons, dan penguatan (reinforcement):
1. Dorongan adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya. Unsur dorongan ini ada pada setiap orang, meskipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat, ada yang lemah dan tidak peduli akan terpenuhi atau tidak.
2. Stimulus atau rangsangan datangnya dari luar individu, dan tentu saja berbeda dengan dorongan yang datangnya dari dalam. Dalam kegiatan mengajar dimana banyak pesertanya yang tidak tertarik atau mengantuk, maka sang komunikator atau pengajar bias merangsangnya dengan sejumlah cara misalnya bertanya tentang masalah-masalah yang sedang trendy, atau mengadakan sedikit humor segar.
3. Respons adalah reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar. Bentuk reaksi dapat bermacam-macam tergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Respons ada yang positif dan ada yang negatif. Yang positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respons terhadap stimulus yang ada, dan tentunya sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan yang negatif adalah apabilaseseorang memberi reaksi sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
4. Penguatan (reinforcement) datangnya dari luar ditujukan kepada orang yang sedang merespons. Apabila respons benar, maka diberi penguatan agar individu tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan seperti tadi lagi.
Teori belajar S-R disebut juga dengan koneksionisme menurut Thorndike. Koneksionisme Thorndike berasumsi bahwa belajar merupakan proses hubungan dua unsure fisik dan mental secara bergabungan. Unit mental adalah sesuatu yang dirasakan, sedangkan unit fisik adalah stimulus dan respons. Secara khusus Thorndike melihat bahwa belajar merupakan proses hubungan dua unsur antara unit mental dengan unit fisik, unit fisik dengan unit fisik, dan unit mental dengan unit mental.
Skinner mengembangkan perilaku operant dalam teori belajarnya. Jika pada perilaku responden yang dominan adalah pihak luar dalam memberikan stimulus kepada seseorang maka pada pembiasan operant justru pihak luarlah yang harus menunggu adanya respons yang diinginkan. Jika respons yang timbul benar maka langsung diberi penguatan. Disini guru atau para praktisi komunikasi instruksional dianggap sebagai seorang arsitek dalam pembangun perilaku murid-muridnya. Oleh karena itu,tugasnya hanya merancang dan mengkondisikan suasana sehingga masing-masing murid atau sasaran berperilaku responsive secara terus menerus sesuai dengan yang diharapkan. Individu berperilaku secara aktif agar diberi penguatan. Disinilah yang dimaksud dengan perilaku operant. Operant itu sendiri merupakan seperangkat tindakan yangmenyebabkan organisme hidup melakukan sesuatu. Menurut Skinner, prinsip belajar pada model operant yaitu:
1. Perilaku-perilaku organisme yang positif diperkuat, artinya manakala terjadi perilaku yang baik pada sasaran maka pada saat yang sama harus dilanjutkan dengan pemberian penguatan positif oleh komunikator instruksional.
2. Informasi yang disampaikan oleh komunikator harus dalam penggalan konsep atau objek yang tidak terlalu luas sehingga setiap ada respons positif maka bias lagsung diberi penguatan.
3. Penguatan-penguatan yang diberikan komunikator hendaknya mampu menggeneralisasikan stimulus yang mirip dengan stimulus sebelumnya, sehingga dapat menghasilkan pembiasan-pembiasan lanjutan.
Teori belajar Kognitif
Praktik pembelajaran yang kini didominasi teori belajar asosiasi dan behavioristik akan digeser teori belajar kognitif dan konstruktivistik. Praktik pembelajaran yang berbasis teori asosiasi dan behavioristik ditandai: konsepsi bahwa pikiran terbentuk oleh asosiasi stimulus-respons, belajar merupakan akumulasi butiran atomistik pengetahuan, belajar melalui urutan yang ketat, setiap tujuan pembelajaran dinyatakan secara eksplisit, test-teach-test sebagai pola umum jaminan belajar, tes isomorfis dengan belajar, dan motivasi didasarkan reinforcement positif tiap tahapan belajar.
Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran seperti itu akan digeser pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivistik. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara sosial dan kultural, mendorong siswa membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri dalam konteks sosial, dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir tingkat tinggi, dalam hal ini proses dipandang sama penting dengan hasil belajar, dan berpikir cerdas dikonsepsikan mencakup kemampuan memonitor belajar dan berpikir. Pembelajaran bukan hanya mengusung informasi, tetapi juga proses membangun watak dan identitas personal.
Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.
Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (spatial), arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.
Dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya perlu ada keseimbangan antara semua aspek perkembangan manusia yaitu perkembangan intelektual, perkembangan sosial, perkembangan emosi dan perkembangan moral yang ikut menentukan keberhasilan anak.
Pelajaran apa saja yang mengandung aspek-aspek tersebut yang dapat menjadikan siswa pandai dan beriman melalui pelajaran agama, yang menjadikan siswa sehat melalui pelajaran olah raga, sehat jiwa melalui pelajaran musik, yang menjadikan siswa berbudaya serta cinta tanah air melalui pendidikan seni melalui ciri masing-masing daerah dan lain sebagainya, semua aspek tersebut dapat menyeimbangkan belahan otak kanan dan kiri yang akhirnya dapat membentuk manusia Indonesia seutuhnya, memang hasil yang dirasakan/didapat bersifat abstrak, bukan bekal berupa keterampilan, tetapi esensial untuk diberikan jika ingin memanusiakan manusia.
Kelemahan dalam mata pelajaran pula sering dikaitkan dengan tahap kecerdasan yang rendah, tanpa mengambil faktor gaya kognitif dan gaya belajar yang mungkin mempengaruhi pencapaian pelajar. Kurangnya pengetahuan tentang gaya kognitif dan gaya belajar di kalangan guru menyebabkan kurangnya penekanan diberikan dalam menyesuaikan aktivitas pengajaran dan pembelajaran dengan gaya kognitif dan gaya belajar pelajar. Tambahan lagi, tidak ada alat ukur gaya kognitif dan gaya belajar yang diperkenalkan ke dalam sistem pendidikan di sekolah yang perlu disalurkan sekurang-kurangnya melalui bimbingan konseling. Peranan konselor di samping membantu pelajar membentuk personality, motivasi serta kinerja yang baik, konselor juga dapat membantu pihak guru dan pelajar untuk mengenal pasti gaya kognitif dan belajar yang dimiliki dan mengaitkannya dengan strategi pengajaran dan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Jelaslah bahwa masalah utama yang dihadapi oleh pihak guru dan pelajar di sekolah pada hari ini untuk meningkatkan potensi pengajaran dan pembelajaran disebabkan kurangnya pemahaman tentang pentingnya gaya kognitif dan gaya belajar dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran dengan lebih berkesan. Menurut Keefe (1991), individu yang paham akan gaya belajar, mereka dan dapat memulai aktivitas kognitif dengan baik, akan lebih bersikap positif terhadap pembelajaran di samping menunjukkan potensi akademik yang lebih baik.
Gaya kognitif dan gaya belajar yang dilaksanakan oleh pelajar yang turut menggambarkan perbedaan individu dari segi personality dan fungsi kognitif. Perbedaan individu di kalangan pelajar adalah kompleks dan memerlukan perhatian mendalam dari pihak guru terutama untuk menyelesaikan masalah pendidikan.
Teori perbedaan individu dari segi gaya kognitif dan gaya belajar dapat dilihat dengan lebih jelas dalam teori perkembangan kognitif Piaget. Piaget menekankan bahwa kematangan neurologi adalah asas utama yang membentuk perkembangan kognitif dan pembelajaran individu. Perkembangan kognitif individu merupakan proses mengorganisasi aktivitas mental secara progresif setelah melalui proses kematangan dan pertambahan pengalaman (Piaget, 1972). Piaget berpendapat bahwa setiap individu akan mengalami proses urutan perkembangan kognitif dan pembelajaran yang sama tetapi dalam kadar yang berbeda (Majid dan Rahil, 2000).
Rabu, 04 Juli 2007
Langganan:
Komentar (Atom)